Thoughts Out Loud: Sending the Right Message to The Audience

KaramelKinema

Back in June, i did an LGBT blogathon by Yam-mag, where i write about selected films/tv shows that has LGBT related theme or issue. LGBT is an issue i personally feel so invested in, since i read the book relating to the issue i have a new point of view and re-assess my views about LGBT and the violent behavior towards it. It is sad that most Indonesian are still showing ignorant behavior and showing no awareness regarding the issue. I think film, in general, is a good way to educate the masses (audience). Sadly in Indonesian cinema, nods to the issue are shown merely as a stock character for comic relief instead of the highlight worthy points to ponder on. You can count the number of Indonesian LGBT films that are getting wide-release with the fingers on your hands.
KK-IDTD
So when i first heard about the movement of Indonesia Tanpa…

Lihat pos aslinya 866 kata lagi

Artikel dari seorang remaja yang labil dan kebingungan

Ceritanya, ada seorang om-om bahagia *kalau tante-tante  kan girang* yang ngantuk banget dengerin pendeta yang khotbahnya gak jelas.  Dia memandang sekelilingnya dan dia juga sadar bahwa desain gerejanya membosankan.

Kenapa gereja gak dicat warna merah jambu?

Kenapa gak ada karikatur Tuhan atau patung Buddy Christ?

Kenapa salib harus polos?  Kenapa gak polkadot?

And the most important thing,

kenapa memuji Tuhan harus membosankan?

Tenang aja, si om-om itu gak expect semua gereja seperti gereja di film “Sister Act” kok, dia cuma berharap mereka setidaknya ada gereja yang pendeta-pendetanya mirip SNSD sama Monica Belluci, ato at least gunungnya segede jupe dan depe.

 

Dulu kakak sekolah minggu gue sering bilang kalau kita harus pergi ke gereja karena kita harus meluangkan waktu untuk Tuhan dan merasakan kehadiran Tuhan.  Kita juga harusnya memuji Tuhan dan datang ke gereja berdasarkan kesadaran diri sendiri dan blablabla.  Anyway, saking bosannya, si om-om malah mempertanyakan beberapa hal lagi:

Sebenarnya gue ke gereja untuk diri gue sendiri, untuk Tuhan, untuk gengsi, atau untuk pendeta?  Apakah salah untuk merasa bosan pada kebaktian?  Apakah salah untuk merasa bosan pada khotbah yang topiknya juga udah pernah diajarkan di sekolah minggu?

Kita ke gereja untuk meluangkan waktu untuk Tuhan dan meraskan kehadiran Tuhan.  Tapi apakah meluangkan waktu untuk Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya harus datang ke gereja?  Gak, kan?  There are so many ways to spend time with God or to feel His presence.  Rasio perbandingan antara gue ke gereja dengan merasakan kehadiran Tuhan di gereja boleh dibilang 100:1.  Kenapa?  Karena terkadang bukannya merasakan kehadiran-Nya, gue malah bagaikan robot yang asal ngikutin liturgi.  Sejak beberapa tahun yang lalu, gue udah merasa terpaksa banget ke gereja karena gue malah merasa seperti robot.  Gue ke gereja biar gak dimarahin doang.  Padahal menurut gue apalah gunanya gue ke gereja kalau gue udah merasa terpaksa dan disconnected?  

Sekali lagi, kita ke gereja *seharusnya* untuk memuji dan merasakan kehadiran-Nya, tapi kenapa gue malah dengerin pendeta ngomong panjang lebar?  Gue masih gak ngerti in what way listening to priest equal with listening to God?  Apakah karena pendeta-pendeta menyuarakan suara Tuhan?  Tapi apakah mereka udah pernah ketemu Tuhan?  Apakah mereka malaikat yang nyamar jadi pendeta, karena itu mereka udah fix paham akan perintah dan ajaran dari Tuhan?  Gue tahu kok kalau kita harus dengerin dan menghargain orang yang lagi ngomong, apalagi pendeta.  Tapi apakah gak membosankan dengerin hal-hal yang mirip seminggu sekali?  Apalagi biasanya inti khotbah tuh:

  • Percayalah, pertahankan iman terutama di zaman metropolitan
  • Berbuat baik dan bebagi
  • Intropeksi diri
  • Kita semua mahluk berdosa
  • Jangan ngejudge orang
  • Jangan munafik
  • Jangan mamerin barang atau bahkan iman
  • Berubahlah ke arah yang lebih baik     
  • Forgive and forget, kita juga mahluk berdosa dan Tuhan telah memaafkan kita
  • Tuhan menderita untuk kita
  • Terus berusaha, Tuhan punya rencana untuk kita
  • Tuhan itu baik

Jarang banget kotbah yang intinya beda jauh dari yang telah gue sebutkan.  Kalaupun intinya beda, pasti setidaknya mengandung hal-hal yang telah gue sebutkan tadi.  Hal ini membuat pelajaran matematika terlihat lebih asyik dan variatif.  So, is it wrong to feel bored in the middle of sermon?  Fucking no.  Hal itu sangat manusiawi dan wajar.

Harus gue akuin, jadi pendeta itu gak harus orang yang benar-benar pintar bicara atau punya sense of humor yang tinggi.  But if you can’t make your sermon interesting or pick an interesting topic, then don’t expect me to be interested in your sermon.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.